REVIEW BUKU

Posted by PAI C UIN SUKA BUDAYA SENI

Paradigma Kebudayaan Islam (Studi Krisis dan Refleksi Historis)

*Vina Tafrikhasari
09410179
PAI-C

Identitas Buku:
Judul        : Paradigma Kebudayaan Islam (Studi Krisis dan Refleksi Historis)
Pengarang : Dr. Ismail Faisal, MA
Penerbit    : Titian Ilahi Press
Tebal        : 202 halaman

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Kajian Buku
Berbagai krisis timbul di bidang pendidikan dan kebudayaan yang dihadapi oleh umat islam. Salah satu krisis yang cukup memprihatinkan yaitu bahwa umat islam di Indonesia kurang bersahabat dengan ilmu pengetahuan, ini yang dikemukakan oleh WS Rendra seorang penyair dan dramawan terkenal di negara ini. Akibatnya akan bermuara pada kenyataan bahwa prosentase intelektual muslim di Indonesia tak sebanding dengan jumlah umat islam. Selain itu banyak juga dijumpai seniman  muslim yang masih mempertanyakan tentang pengimajinasian Tuhan, Malaikat atau Nabi dengan daya khayal penggambaran sang seniman, dan juga banyak krisis-krisis lain yang timbul. Buku yang ditulis oleh Dr. Faisal Ismail, MA., dengan judul Paradigma Kebudayaan Islam (Studi Krisis dan Refleksi Historis)  mencoba memberikan solusi-solusi terkait dengan krisis-krisis kebudayaan islam. Sehingga, saya tertarik untuk mengkaji buku ini sebagai bahan pengetahuan yang berkaitan dengan kebudayaan islam.

B.    Urgensi Buku
“Paradigma Kebudayaan Islam” (Studi Krisis dan Refleksi Historis)  merupakan buku yang berisi dari kumpulan karangan dan makalah lepas yang mana antara bagian yang satu dengan bagian lainnya bukan merupakan sesuatu yang bulat dan utuh secara sempurna. Namun meskipun demikian, setiap bagian juga bab dari buku ini masing-masing mengandung satu benang merah yang secara keseluruhan membahas persoalan moralitas, agama, dan kebudaayaan.
Buku ini akan sangat bermanfaat bagi pemabacanya. Pembaca akan memperoleh berbagai pengetahuan berkaitan dengan kebudayaan islam, posisi kesenian islam kontemporer, moralitas islam, modernisasi dan lain sebagainya.
PEMBAHASAN
Secara keseluruhan, buku ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, mencoba menyoroti secara umum sosok dan situasi pendidikan dan kebudayaan islam di Indonesia. Bagian ini juga memaparkan suatu analisis terhadap timbulnya krisis-krisis di bidang pendidikan dan kebudayaan yang dihadapi oleh ummat islam sekaligus bagaimana strategi kebudayaan dan pembaharuan pendidikan Islam. Selanjutnya, bagian ini diakhiri dengan sebuah studi kritis terhadap tesis-tesis kebudayaan yang diajukan oleh Sidi Gazalba, Nmun penulis sendiri ternyata mengemukakan ketidaksependapatannya dengan pemikiran kebudayaan yang dikemukakan oleh Gazalba. Salah satu contoh dari tidak sependapatnya penulis (Faisal Ismail) dengan Gazalba pada halaman 47, disebutkan bahwa pemikiran Gazalba tentang “agama Islam adalah setingkat dengan kebudayaan Islam dan masing-masing merupakan bagian dari din Islam”, dibantah oleh Faisal bahwa itu menyesatkan dan merusak citra dan gambaran Islam, merusak nilai-nilai kesucian, keaslian dan kemurnian Islam. Faisal sendiri berpendapat bahwa sesuai dengan aqidah kita, bahwa Islam seluruhnya adalah wahyu, tidak ada bagian-bagian kebudayaan Islam di dalamnya. Agama tidak setingkat dengan kebudayaan Islam, karena agama berasal dari Allah sedang kebudayaan Islam merupakan hasil cipta dan karya orang Islam.
Bagian kedua, tentang Keberimanan dan Kesenimanan. Membahas perihal subordinasi agama terhadap kesenian atau sebaliknya dan akibatnya yang akan terjadi jika hal itu dilakukan. Pada halaman 61 disebutkan bahwa subordinasi kesenian pada agama menimbulkan akibat-akibat yang menyangkut kedua simbol itu. Hal itu berdampak negatif dan juga positif. Dampak negatifnya bagi kesenian antara lain (1) terikatnya bentuk dan isi kesenian kepada agama yang berpretensi abadi, (2) timbul ketegangan antara nilai-nilai agama termasuk hokum-hukumnya yang keras dengan nilai-nilai kesenian yang longgar, (3) penggunaan kesenian untuk tujuan praktek agama akan membatasi ruang gerak kesenian, (4) kebebasan mencipta terganggu oleh ingatan akan norma-norma. Sednagkan segi positifnya yaitu adanya dasar yang kuat untuk memperkembangkan kesenian karena bagaimana pun juga kesenian harus selalu mengandung nilai-nilai. Nilai negatifnya kesenian terhadap agama, antara lain (1) pernyataan-pernyataan dalam kesenian sering mengacaukan ajaran-ajaran agama, (2) hasil kesenian terkadang disucikan sebagai bentuk ibadah, (3) akidah-akidah agama sering ditaklukan oleh perkembangan kesenian. Sedangkan segi positifnya untuk agama yaitu nampaknya sosok kebesaran agama yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Pada bagian kedua ini juga dilengkapi dengan pembahasan “diskusi” tentang bagaimana seharusnya seniman Muslim memandang, menghayati, mendekati, dan “menafsirkan” Tuhan. Karena senjata paling ampuh yang sangat dibangga-banggakan para seniman adalah “Imajinasi”. Para seniman akan menuntut kebebasan berimajinasi dalam mencipta. Namun pada kenyataannya, di dunia ini tidak ada yang mutlak dan tak terbatas. Tidak semua dari hasil imajinasi dalam karya seni itu dapat diterima, karena imajinasi itu adalah hasil daya khayal manusia belaka yang terkadang menyeruak dari bawah sadar.
Bagian ketiga, yaitu tentang Islam dalam kaitannya dengan moralitas, dan modernitas yang mencakup sub-sub bab berupa Islam dan Gemerlap dunia Mode, The Flower Children, Islam dan Permissive Society, Moralitas Islam vs Moralitas baru, Islam, Modernisasi dan manusia Modern, dan juga Islam dan Modernisasi kasus Turki dan Iran. Bagian ini memaparkan bagaimana posisi Islam berhadapan dengan pergeseran nilai-nilai moral yang terjadi di dunia barat, yang pengaruhnya juga dirasakan disekitar kita. Menurut Faisal sebagai penulis, bahwa doktrin Islam tentang moral tidak memerlukan redefinisi dalam menghadapi arus moralitas baru yang terjadi di Barat dewasa ini. Topik lain yang juga di kaji dalam bagian ini adalah bagaimana pendirian Muslimin dan wawasan Islam berhadapan dengan isu-isu sentral yang bertalian dengan modernisasi.
Bagian keempat, yaitu tentang Islam dan Kebudayaan Global. Bagian ini diawali dengan sketsa sejarah kebangkitan kebudayaan Islam (abad 8 hingga 13 M). Setelah menikmati masa-masa keemasan dan kejayaannya selama sekitar 5 abad, umat islam-Arab dan kebudayaan runtuh, estafeta kepeloporan di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan beralih di tangan Barat. Pada bagian empat yang dibawah judul “Islam dan Situasi Global Dewasa ini” dan masa Depan Kebudayaan Islam” yang disajikan pada halaman 167 hingga 183, penulis buku mencoba melakukan analisis refleksi historis, bahwa Islam dan umatnya cukup memiliki peluang untuk melakukan gerakan revivalisme dan reformisme; mencipta-segarkan karya-karya kebudayaan sebagai basis spiritual dan kultural untuk menopang proses akselerasi terjadinya kebangkitan kembali Islam dan umatnya.
PENUTUP
Review buku ini semoga dapat memberikan manfaat, memberikan gambaran sederhana tentang kebudayaan Islam yang terasa semakin terombang-ambing karena umat islam sendiri yang kurang bersahabat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Selanjutnya, semoga dapat memberikan kesadaran bagi umat islam untuk menilik kembali hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Islam. 

2 komentar:

  1. PAI C UIN SUKA BUDAYA SENI

    seni dan agama adalah sesuatu yang sulit dipisahkan,agama tanpa seni akan mati dan seni tanpa bingkai agama akan tidak terkendali. nisa nurjanah 09510138

  1. PAI C UIN SUKA BUDAYA SENI

    kelebihan dan kekurangan dari buku ini apa?

    NUR HIDAYATIN KHOTIMAH (09410278)

Poskan Komentar